Savor The Flavor

A General Blog

Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rahmat dan Salam Allah semoga tetap tercurah ke haribaan nabi agung Muhammad Shollallahu ‘alahi wa sallama. Para Pembaca sekalian yang dirahmati Allah. Kali ini kami akan menyampaikan tentang Pengertian I’tikaf. Silahkan baca uraian singkatnya di bawah ini.

Pengertian I’tikaf yang Mesti Kita Ketahui

Kata I’tikaf itu diambil dari bahasa arab “I’takafa Ya’takifu I’tikaafan” jadi I’tikaf adalah kalimat isim masdar dari fiil madhinya “I’takafa”. Adapaun Maknanya adalah; “Menetap”. Dan dalam kata lain juga bisa dimaknai dengan sebutan; “mengurung diri” Yang dimaksudkan “mengurung diri” di sini dalam arti beribadah mengingat Allah dan dalam keadaan suci serta berdiam di tempat yang suci.

Pengertian I’tikaf

Kata I’tikaf selain dari yang kami katakan di atas juga bahwasanya beri’tikaf dimasjid itu mesti memenuhi persyaratan tertentu dan rukun yang telah ditentukan pula. Dan perihal tersebut semata hanya berniat ibadah kepada Allah Subhanahu wa T’ala. I’tikaf itu disunnahkan pada setiap saat kecuali I’tikaf yang dinadzarkan. Jadi jika I’tikaf dinadzarkan maka tidak lagi disunnahkan, melainkan hukum I’tikaf tersebut menjadi wajib. Jadi hukum I’tikaf itu terbagi dua yaitu Wajib dan Sunnah.

I’tikaf Wajib

Adapun I’tikaf Wajib adalah I’tikaf nadzar. Misal seseorang mempunyai ujar atau perkataan seperti ini; “Apabila hasil deresan karet saya bulan ini mencapai empat kuintal dalam per satu hektarnya, maka saya akan i’tikaf di Masjid setengah hari”. Lalu kemudian dari apa yang dia katakan ternyata menjadi kenyataan, nah dari kata-kata itu yang semula hukumnya sunnah saja maka sekarang baginya menjadi wajib hukumnya beri’tikaf di Masjid selama setengah hari.

I’tikaf Sunnah

Adapun I’tikaf sunnah adalah I’tikaf sukarela karena Allah bukan karena ada ucapan atau kata-kata janji sebelumnya. I’tikaf sunnah ini bisa dilaksanakan kapan saja waktunya tidak mengikat, tapi waktu utamanya selain dari hari jum’at adalah sepuluh akhir dari bulan puasa. Dan adapun kadar lamanya waktu I’tikaf sunnah ini tidak ada batasan. Namun paling tidak itu ialah melebihi dari ukuran tuma’ninah dalam sholat. I’tikaf itu mesti ditunaikan ; Di masjid dan setidak-tidaknya adalah selam ukuran membaca Subhanallah. Dan niat untuk menunaikan I’tikaf. Jadi jika tidak diniatkan untuk I’tikaf maka tidak sah.

Demikian uraian materi ini semoga manfaat.

Kunjungi : https://www.fiqih.co.id/